Tragedi Crane Jatinegara, Operator Gantry DDT Jadi Tersangka?

Tragedi jatuhnya launcher girder crane di proyek Double-Double Track (DDT) Kereta Api di Jatinegara, Jakarta Timur hari Sabtu (3/2) kemarin memang berbuntut panjang. Karena insiden itu, empat orang dinyatakan meninggal dunia yaitu Jaenudin (44) asal Karawang, Dami Prasetyo (25) asal Purworejo, Jana Sutisna (44) asal Bandung Barat, dan Joni (34). Keempat korban dilaporkan terkena bagian alat berat proyek DDT KA. Salah satu dari korban dilaporkan tewas di TKP dan tiga lainnya di RS Polri Edy Purnomo.

 

Mengenai kelanjutan insiden ini, polisi sempat menyebut kalau ada dugaan kelalaian operator alat berat gantry pada proyek DDT KA Jatinegara. Hal ini yang diduga kuat membuat bantalan beton jalur rel kereta lepas sehingga jatuh korban jiwa karena kejatuhan alat berat. Kombes Yoyon Tony Surya Putra selaku Kapolres Metro Jakarta Timur,  mengatakan insiden ini terjadi saat enam orang pekerja dari PT Hutama Karya memasang bantalan beton.

 

“Yang pasti indikasi kelalaian dalam melakukan pekerjaan itu sudah ada. Dengan adanya indikasi kelalaian operator Judi Togel Online ini tentunya ini berpotensi untuk ditetapkan jadi tersangka. Front launcher gantry terlepas dari bantalan di bawahnya. Jadi apakah kelalaiannya disebabkan mungkin operator capek atau mungkin kurang istirahat. Sementara yang berpotensi jadi tersangka operator dengan inisial AM dan nanti kita akan kembangkan lagi apa ada pegawasnya juga,” tutup Kombes Tony.

 

Korban Crane Dapat Santunan Ratusan Juta Rupiah

 

Sehari setelah tragedi crane ini, pihak keluarga pun langsung membawa jenazah para korban. Detik melapotkan jika mayat Dami yang pertama kali diambil pada hari Minggu (4/2) kemarin pukul 19.30 WIB baru kemudian disusul Joni yang keduanya memang sama-sama berasal dari Purworejo. Sebagai bukti tanggung jawab, Kontraktor proyek DDT KA ini, PT Hutama Karya, menjanjikan santunan sebesar Rp 25 juta untuk 4 korban tewas kecelakaan di Jatinegara, Jakarta Timur. Santunan ini di luar asuransi BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp 123 juta yang akan diberikan kepada pihak keluarga korban.

 

“Khusus yang meninggal itu mendapatkan santunan macam-macam. Sangat menarik sekali manfaatnya ada santunan kematian sebesar 48 kali upah dengan total manfaat kepada setiap pekerja sebesar Rp 123 juta dengan dasar upah hariannya Rp 80 ribu. Dan keempat korban yang meninggal ini adalah anggota BPJS yang tertib iuran. Mereka berempat terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan Kelapa Gading,” kata Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif.

 

Crane Jatuh Karena Kebut Proyek?

 

Jatuhnya korban jiwa karena tragedi crane ini seolah membuat banyak pihak bertanya-tanya, apakah kelalaian operator DDT dikarenakan tekanan pekerjaan untuk segera selesai tepat waktu?Bahkan ternyata pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) DKI Jakarta sempat menduga ada kesalahan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proyek DDT jalur KA di Jatinegara.

 

Sekedar informasi, proyek DDT KA ini dilakukan oleh kontraktor pelaksana proyek PT Hutama Karya dengan konsorsium bersama PT Modern Surya Jaya dan PT Mitra Engineering Grup. Sementara itu, Konsorsium Hutama Karya menegaskan bahwa pihaknya sudah mengecek ulang semua peralatan yang digunakan demi memastikan keamanan dan keselamatan kerja pada proyek. Pihaknya pun siap bekerja sama dengan Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) dari Kementerian PUPR untuk investigasi.Tak ingin ada berbagai tudingan muncul, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan kalau proyek rel kereta api empat jalur (DDT) ini sudah sesuai prosedur dan tak terburu-buru.