Amerika dan China Sepakat Atasi Ancaman Korut

Uji coba senjata nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara telah membuat berbagai negara geram terutama negara tetangga dan tentunya negara adidaya Amerika Serikat. Berbagai upaya telah dilakukan Amerika Serikat untuk menekan Korut, tetapi sepertinya Korut tidak bergeming dan terkesan mengacuhkan Amerika. Bahkan, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un mengancam Amerika Serikat dengan rencananya akan menghancurkan pulau kecil Guam yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Kini, Amerika bekerjasama dengan China untuk atasi ancaman Korut.

Pertemuan Dua Negara; Rencana Blokade Korea Utara

Beberapa waktu lalu tengah diadakan pertemuan antara Amerika Serikat dan China. Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa dia dan pemimpin China, Xi Jinping percaya bahwa krisis Korea Utara dapat dipecahkan saat kedua orang tersebut mengadakan perundingan di Beijing pada hari Kamis (9/11). Trump menyampaikan ucapannya saat kedua pemimpin tersebut bertemu di Balai Besar Rakyat Beijing untuk pembicaraan yang berfokus pada ancaman nuklir Korut dan surplus perdagangan China yang besar terhadap Amerika Serikat.

“Pertemuan kami pagi ini … sangat bagus dalam membahas Korea Utara dan saya yakin ada solusi untuk itu, seperti yang Anda lakukan,” kata Trump saat ia duduk di seberang Xi. Trump tidak menjelaskan namun kemungkinan dia akan menekan Xi untuk lebih membatasi atau bahkan blokade perdagangan antara China dan Korea Utara dimana kesejahteraan ekonomi Korut sangat bergantung pada perdagangannya dengan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Xi, yang telah berulang kali mendesak Amerika Serikat dan Korea Utara untuk mengadakan perundingan guna menyelesaikan krisis dengan damai, mengatakan kepada Trump bahwa negara mereka harus “memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam isu-isu internasional dan regional utama termasuk Semenanjung Korea dan Afghanistan”.

Solusi Win-Win (Menang-Menang)

Dalam hal perdagangan, Trump mengatakan bahwa pemerintahan AS sebelumnya membiarkan ketidakseimbangan perdagangan terjadi “tidak beraturan”. “Kami akan membuatnya adil dan akan sangat luar biasa bagi kami berdua,” kata Trump. Pemimpin AS tersebut juga tidak luput untuk memberikan lebih banyak pujian pada Xi, yang pertama kali dia temui di resor Florida-nya pada bulan April lalu.

“Perasaan saya terhadap Anda adalah kehangatan yang luar biasa. Seperti yang kita katakan ada chemistry yang hebat dan saya pikir kita akan melakukan hal-hal yang luar biasa baik untuk China dan Amerika Serikat,” kata Trump ketika memuji Xi. Xi, yang pertama berbicara, mengatakan kepada Trump: “Bagi China dan Amerika Serikat, kerja sama adalah satu-satunya pilihan yang tepat dan hanya situasi menang-menang (win-win) yang bisa membawa masa depan dewa poker yang lebih baik.”

“Saat ini, hubungan Sino-AS berada pada titik awal sejarah yang baru. China bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk saling menghormati, menawarkan keuntungan bersama, fokus pada kerja sama, mengelola dan mengendalikan perbedaan.”

Dari apa yang disampaikan keduanya, memang keadaan kedua negara  tersebut mencoba untuk kembali menjalin kerjasama dan persahabatan dengan landasan win-win solution. Artinya, untuk krisis dan ancaman Korea Utara, kedua negara tersebut juga akan membangun rencananya berdasarkan solusi menang-menang tersebut. Sehingga, bagi kedua negara itu, mereka tidak akan mengalami kerugian walau China mungkin membatasi hubungan bilateral dengan Korea Utara.

Sehingga, bukan tidak mungkin jika Amerika Serikat akan menawarkan sesuatu yang dapat membuat China merasa menang atau tidak rugi ketika pembatasan perdagangan dilakukan terhadap Korea Utara. Sejauh ini, langkah kongkret kedua negara dalam mengatasi ancaman Korea Utara baru sebatas wacana. Trump yang menjuluki Kim Jong Un dengan sebutan ‘Rocket Man’ juga belum menunjukan tanda-tanda akan melakukan tindakan yang lebih kasar lagi.